Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Kuliah’ Category

Postingan oming ni, so pasti udah ditunggu-tunggu ma guru blogger-nya ming,hehehe… secara pagi tadi acara perhelatannya (ceileh.. perhelatan), maksudnya acara pengujian tahap 1, aduh bertele-tele banget.. langsung aja.. pagi tadi adalah seminar proposal thesis-nya Bli pande :mrgreen:

Usulan penelitiannya mengambil topik tentang Sistem Informasi, yang secara khusus membuat sistem informasi jalan raya di kabupaten Badung yang berbasis web.

Dari judulnya aja udah keren, and so pasti acara seminar tadi berlangsung alot dan lebih fresh (secara topiknya bukan topik biasa yang membosankan, yang itu lagi-itu lagi, ex: analisa investasi ini, analisa resiko itu, yang menurut oming masih berkapasitas S1)

Walaupun ming datang telat and gak sempet ambil good pic, tapi gapapalah ming akhirnya berhasil shhot this pic:

DSC01324

:mrgreen:

hehehe… duduk di depan laptop yang diisi stiker pandebaik.com ;sampe2 pengujinya manggil dia pandebaik dot com (dengan lafal indonesia),hehehe…

Di sela-sela sesi tanya jawabnya, bli pande juga sempet promosiin Bali Orange loh (salah satu hosting terkeren di Bali), untuk menjawab bahwa web Pemda gak lagi numpang di geocities tapi udah punya domain and hosting sendiri),hahahahaha…

 

But, overall, seminar ini berlangsung keren abiiz, terbukti nilai2 yang dikasik pembahas juga oke-oke.. untuk cerita selengkapnya dan selanjutnya dan sebenarnya silahkan kunjungi link ini:

http://pandebaik.com/2009/03/14/so-what%e2%80%99s-next/

NB:

Hehehe… parah banget postingan hari ini, nulis cuman buat “ngewalek” bli pande, gak sinkron banget ma judulnya,hehehehe…

sowry, bro.. I’ve No ideas at all..

:mrgreen:

Read Full Post »

Hahaha walopun ming bilang seminggu mo cuti blogging, ternyata tangan ming dah gatal pengen nulis cerita swaktu menghadiri Seminar Kelayakan Thesis kemaren. Supaya gak keduluan juga sih ma guru bloggernya ming, hehehe..

DSC00933Jadi seminar kelayakan thesis kemaren dibawain ma senior dari angkatan 2006 (I.G.A Istri Mas Pertiwi), dari bidang Manajamen Konstruksi juga yang membahas tentang Analisis Kelayakan Pembangunan Perumahan Greenlot Sambandha.

 

Sebenarnya hari itu ada 2 seminar, jam 10 pagi dan jam 2 siang, tapi ming ikut yang jam 2 siang, karena paginya da kesibukan lain.

Suasana seminar cukup alot ketika dibuka sesi tanya jawab dari ketiga penguji. Penguji I : Bapak IB.Rai Adnyana dan Penguji II : Bapak Wiranatha menanyakan hal-hal yang menyangkut “isi” thesis itu sendiri, mulai dari: pemasukan data cashflow ke dalam pos-pos yang gak bener, terus mengenai kelayakan dari  pembangunan perumahan ini yang masih diragukan mengingat nilai NPV dan IRR-nya kecil banget sehingga walaupun hasilnya layak (karena NPV > 0 dan IRR > suku bunga) namun hasil yang didapat tidak memberikan keuntungan yang cukup signifikan dan kelayakan ini diterima dengan berbagai pertimbangan dan syarat (karena analisa sensitivitasnya juga menunjukkan investasi ini sangat sensitif).

Nah berikutnya Penguji yang ke-3 inilah yang menjadi perhatian ming dan dijadiin lelucon ma temen-temen. Penguji ni emang dari zaman gak enak udah terkenal kalo nguji cuma mempermasalahkan kaedah tulisan, mulai dari kata ni kurang huruf inilah, paragraf ini kurang spasilah, tabel ni kurang proporsionallah, gambar belum ada label lah, dll. Mungkin panitia sengaja melibatkan Beliau sebagai penguji agar ada yang komentari tulisan bukan sekedar bobot dari isi thesis itu sendiri, hehehe…

DSC00932 Tapi kali ni ada yang lain, yaitu: Beliau mencatat apa yang akan Beliau tanyakan di HP Communicatornya. Entah maksudnya pamer atau apa, tapi itu cukup membuat saya geli. Gemana gak, yang beliau catat di ponsel canggihnya itu mungkin kalo ditulis di kertas A4 bisa memenuhi kertas itu sendiri, malah mungkin lebih bagus lagi kalo dicatat di kertas, jadi pertanyaannya bisa ditulis gede-gede dan gak perlu ngeluarin kaca mata dan mengernyitkan mata dan alis untuk membaca tulisan di ponsel, hehehe.. 😀

Lalu ming sempet kasian juga ma pembicara (Penulis Thesis ini) karena Beliau mengkritik peta daerah mengwi, yang dia scan dan jelas tertulis disana bahwa gambar itu terskala yang gak mungkin menampilkan seluruh wilayah mengwi secara detail. Dengan dalih Beliau berasal dari situ, Beliau akhirnya menanyakan dimana daerah ini, dimana daerah itu, kok gak keliatan… Ko jadi belajar peta buta ya? Hahahaha…

Kemudian Beliau mempermasalahkan Pendapatan, sumber dari in-flow, yaitu hasil penjualan unit rumah atau villa. Beliau menanyakan darimana sumber harga dan bagaimana perhitungan untuk mendapatkan harga jual itu dan seharusnya itu ditampilkan dalam thesis. Walapun Pembicara telah berdalih bahwa harga2 tersebut ia dapatkan dari brosur developernya, tetep aja dia gak bisa membela diri sewaktu Bapak ini menyruh dia untuk memasukkan perhitungan harga ini ke dalama thesisnya.

Wah kalo ming, udah mati-matian tak ajak debat bahwa perhitungan harga jual tu bukan masalah dari topik thesis kita. Kita menganalisis kelayakan proyek tersebut yang sumber datanya berupa cashflow tadi (yang udah jelas cost dan revenue-nya), masalah harga jual itu dapat dari mana biar aja temen-temen yang ambil topik estimasi bahas hal itu, ya gak?

Eh ada lagi nih cerita seru yang datang dari guru bloggernya ming yang menerima titipan absen dari “Bos”nya yang kebetulan hari tu gak hadir. Wah waktu ketahuan, ming dah bilang tuh , ni bakal jadi topik blogging yang seru. Akhirnya dia bilang : “Bos ini, ntar aku bisa gak dapet kerjaan di kantor..” hahahaha ABS banget (Asal Bos Seneng), Hahahaha…

Eh ntarnya dia dah dapat foto ming yang lagi in-action ambil gambar-gambar diatas, huh dasar! Katanya untuk bahan blog..

:tuing!: capek deh… kena juga.

Technorati Tags: ,

Read Full Post »

Tugas SIMI : Buat Aplikasi Database (tugas yang harus aku kerjain karena absensi dibawah 75%) :mrgreen:

Tugas Real Estate : Buat Analisa Finansial dan Studi Kelayakan suatu Real Estate, bisa Apartemen, Hotel, Villa, Mansion, Condotel, dll.

Tugas Manajemen Risiko : Buat Risk Quantitative Analysis dengan studi kasus pake program @Risk

Tugas Metodologi Penelitian : Buat Proposal Thesis mpe Bab III

Thesis : Service Thesis karena 3 minggu ni mogok di Bab II, hehehe… Tugas ni bisa langsung dengan Tugas Metodologi Penelitian

Oh my Gosh… It’s look like Hell

Oh susahnya mengatur waktu… Ada Saran?

Read Full Post »

Hari ini aku dapat berita buruk dari seorang teman yang mengatakan bahwa salah satu mata kuliahku dapat nilai C yang notabene nilai itu dialamatkan (dan anehnya) cuma kepada cewek-cewek yang ada di kelasku (cuma salah satu yan gak). Tambah ngenes lagi nilai salah satu mata kuliah juga aku dapat nilai di bawah dari temen yang…Boong banget kalo aku bilang aku gak kecewa..

Aku jadi tambah kecewa karena mengingat bagaimana perjuanganku buat tugas kelompok hanya dengan seorang teman (yang juga gak selalu begitu) yang sebetulnya dibuat ber-“sekian”, kini aku dapat nilai sama dengan temenku yang ber-“sekian”  tu.

wah kebayang donk gemana rasanya?

aku ingat-ingat lagi, apa mungkin karena niali ujiannya? Eh tapi kalo diliat dari nilai ujian, hasilnya juga gak mesti gitu karena kita ujian bergotong-royong. So What’s wrong?

Apa dosen yang ngajarin mata kuliah ni emang sentimen ma aku yang notabene pernah punya kasus waktu di S1 dulu. Tapi masak segitunya sich? sampe dendam gitu, subyektif banget donk penilaiannya. Apalagi sekarang aku harus bimbingan tesis dengan orang yang sama

Semakin aku berpikir penyebabnya, semakin sakit banget kepalaku dibuatnya. Rasanya pas itu aku gak bisa berpikir sehat, yang ada setan-setan terus mengitari kepalaku. Aku sedih, kecewa, dan merasa gagal memenuhi target dan mengecewakan kedua ortu-ku. Sure, I’m terrible upset..

Setelah aku berkompromi dengan cowokku dan menulis di blog ni, aku sedikit lega dan mulai bisa men-defrag pikiranku, mengembalikannya ke tempat semestinya. Dan inilah pikiran positif yang aku dapetin:

Pertama, bahwa tidak mungkin dosen seprofesional dosenku ini memberikan penilaian yang subyektif hanya karena penilaian masa lalu.

Kedua, Mungkin aja, walaupun ujian kita gotong royong, manusia itu selalu punya sifat ego yang susah untuk diabaikan. Di last minute, di menambahkan sesuatu di kertas ujiannya yang membuat nilainya jadi lebih positif.

Ketiga, Walaupun tugas kebanyakan aku kerjain sendiri, positifnya aku jadi lebih mengenal materi itu lebih daripada yang lain, sehingga sekarang aku tidak menemukan kesulitan untuk memulai thesisku karena aku sudah terbiasa menulis. Atau setidaknya aku tidak merasa bersalah karena telah merepotkan orang lain dengan tugas-tugasku.

Dengan me-reset kembali pikiranku, perlahan aku mulai untuk menata langkahku untuk memperbaiki ini semua atau setidaknya TIDAK mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya (hanya orang bodoh yang melakukan itu).

Pertama, Aku akan mulai menggenjot thesisku hingga aku bisa membuktikan bahwa aku mampu menyelesaikan Bab III ini dan menunjukkan usahaku kepada dosenku ini. Aku cuma bisa berharap dengan ini dosenku jadi luluh, melihat kesungguhanku, dan mengijinkanku cuma ikut her (ulang ujian tanpa ikut kuliah penuh) untuk memperbaiki nilaiku ini. Dan ini akan aku lakukan SENDIRI (walaupun cowokku nyuruh cari dukungan dengan yang dapat nilai sama)

Kedua, aku akan lebih percaya diri dalam menghadapi apapun, termasuk ujian. Aku sudah gak peduli lagi dibilang sombong atau apalah, it’s about responsibility. Kalo emang mereka dapat nilai lebih, tunjukkin donk, jangan nempel.. Mungkin seharusnya sindirannya bli pande (yang dia tuangin lewat tulisan di blognya), yang menampilkan fotoku lagi noleh kanan-kiri seharusnya saat itu sudah menjadi pecut buat aku, hehehehe..

Ketiga, I’ll never work in Team again! No Way!

So, those are the lesson I’ve got: Sekolahku adalah tentang masa depanku, masa depan yang AKU sebagai pelaksana dan penanggung jawabnya bukan teman-temanku. Mereka akan ada saat mereka membutuhkan kita, tapi mereka tidak akan ada saat kita terpuruk seperti ini. Aku tidak menyalahkan mereka, karena seperti yang aku bilang sebelumnya, semua orang punya kepentingannya masing-masing dan sifat ego yang selama kita hidup masih susah kita hilangkan.

It’s time to change, gal!

Read Full Post »

Hooray Proposalku disetujui!

Fiuh.. akhirnya setelah sekian lama bergumul dengan buku-buku setebel bantal, browsing mpe mata merah, akhirnya usulan penelitianku yang emang baru Bab I tu disetujui.. Yah, walaupun baru Bab I setidaknya kan langsung disetujui gitu, gak pake ditolak atau ditanya-tanya..

Hahaha.. gemana gak ditanya-tanya, dosennya juga mungkin heran aku berani ambil topik ni, topik yang tergolong baru di dunia ketekniksipilan di Indonesia malah (duh bangganya). Karena topik ini juga aku jadi sedikit ketinggalan dari temen-temen yang udah duluan disetujui proposalnya yang notabene topiknya udah umum (tinggal ganti studi kasus aja) atau judul yang dikasik karena ada “pemberian”. Bisa diitung dengan jari temen-temen yang berani ambil topik dengan “aroma” beda atau yang berani susah-susah utak-atik komputer untuk ngedapetin simulasi yang nantinya mungkin berguna untuk teknik sipil di masa depan. Jadi yah.. cukup berbanggalah ik ngedapetin topik ni..

Awalnya dari baca buku tentang Lean Six Sigma yang waktu tu judulnya Pendekatan Lean Six Sigma untuk mereduksi cacat/kesalahan, inventories dan lead time untuk perusahaan manufaktur dan jasa, karangan Bapak Vincent Gasperz (mungkin pernah denger, Beliau adalah masternya TQM di Indonesia, dan udah menulis lebih dari 30 buku tentang manajemen operasi dan kualitas). Disitu ditulis bahwa metode ini merupakan gabungan metode yang dipelopori oleh Toyota motor dan Motorola yang kita tau produk-produknya udah gak perlu diragu’in lagi. Metode ini populer banget di Amerika, Jepang dan Kanada dan udah dipake di hampir semua perusahaan manufaktur dan jasa disana. Nah di Indonesia (yah tau sendiri lah kita kan agak telat) baru diaplikasiin oleh perusahaan manufaktur besar, dan yang ik tau dari bibliografi penulis di buku ini, Beliau sedang memberi training Lean Six Sima di perusahaan jasa milik Negara seperti BRI, Pertamina dan lain-lain. Jadi sepanjang pengetahuan ik selama membaca buku-bukunya,metode ini belum pernah diterapin di prusahaan jasa konstruksi di Indonesia. Di Amerika, perusahaan jasa konstruksi Bechtel mengklaim dirinya sebagai pelopor pengguna metode six sigma untuk proyek-proyeknya.

Gak puas dengan satu buku ni, ik beli buku dengan penulis yang sama dengan judul Cost Reduction Through Lean Six Sigma (tenang aja bukunya bahasa Indonesia ko). Browsing internet nyari-nyari materi yang ada hubungannya dengan ni, ma penglaman-pengalaman peusahaan dan proyek-proyek yang telah dan sedang menggunakan metode ini (kan lumayan buat latar belakang Bab I-nya). Setelah tu beli buku lagi yang khusus membahas six sigma aja. setelah dirasa cukup, barulah penyusunan dimulai. Ik sadar materi yang ik bawain ni baru, makanya ik perlu buatin simulasi untuk metode ini, karena gak mungkin menerapkan metode ini ma proyek orang (emang perusahaan punya mbah mu..).

Jadi yah begitulah, ik ajuin proposalnya ke KPS Teknik Sipil (yang kebetulan Beliau tertarik dengan topik-topik yang berhubungan dengan utak-atik komputer), eh malah disuruh lanjut buat kajian pustaka and kerangka berpikirnya… Ahh.. tanpa pertanyaan sana-sini, tanpa tedeng aling-aling.. disetujui.. Oh kerja kerasku selama ini…

Tapi perjuangan masih panjang, gal.. Sempet ragu juga bisa selesai sesuai target and gak bisa nemuin orang yang mau bantuin buat simulasinya, wah parno banget dah.. Tapi harus diselesaiin, semangat!! karena udah banyak yang mendesak biar cepat selesai, hahaha.. (siapa lagi kalo bukan ortu, tapi baru-baru ini da orang baru yang mulai mendesak ni.. cowok ik and camer, hahaha.. emang mo ngapain pak..suruh cepet cepet.. udah negebet ya??) hahaha

Read Full Post »

Kuliah yang seharusnya hari ini (rabu, 29 Oktober 2008) diisi oleh Pak Astawa Diputra dengan Manajemen Real Esatenya diganti dengan kedatangan Mantan Penggede Waskita Karya yang juga mantan dosen Universitas Udayana, Bapak Ir. Christiawan, Msc, IPU. Sempet ngira salah kelas karena begitu masuk, ruangan yang sempit itu udah 3/4 terisi penuh dan yang tdd dosen-dosen dan temen-temen di Hidro, Transport, Struktur dan MK. Semuanya campur aduk disitu.

Bpk ChristiawanMateri yang dibawa tentang dogma cara berpikir manusia yang notabene dibagi menjadi cara bepikir vertikal dan lateral. Sebelumnya ada yang menarik ketika Beliau mengatakan, karena kita terlalu lama dijajah ma Belanda, cara berpikir mereka terwarisi ke kita Bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, Beliau mengatakan cara berpikir Belanda adalah cara berpikir yang terlalu teoritis, benar ya benar-salah ya salah tidak ada kompromi, kemudian kebiasaan kita yang selalu ngedumel bila ada sesuatu yang tidak berkenan tanpa berani untuk memberi pendapat, dan lain-lain yang akhirnya cenderung mengarahkan cara berpikir kita ke arah yang kurang kreatif.

Cara berpikir seperti itu yang disebut vertikal, terlalu memisahkan kelompok pro dan kontra dalam jarak yang sangat berjauhan, berbeda dengan cara berpikir lateral yang menempatkan PO (Possibilities) diantaranya. Inilah yang menyebabkan penemuan-penemuan mutakhir didominasi oleh negara-negara maju, karena mereka berani untuk kreatif dan keluar dari teori-teori yang ada menggunakan perspektif mereka sendiri. Di dunia konstruksi, Beliau banyak memberi contoh tentang ide-ide kreatifnya saat berkecimpung di lapangan. (acungin jempol deh, dengan pengalaman-pengalamannya)

Kuliah ditutup dengan permainan-permainan yang memaksa otak kanan kita untuk aerobik sejenak. Wah game-game ini ternyata susah banget karena kita terbiasa dengan otak kiri kita, tanpa bisa berpikir kreatif dan mengubah sedikit ego dan prespektif kita. Dan game-game ini mampu membuat mata temen-temen jadi melek lagi setelah menyimak presentasi Beliau yang menurut mereka mungkin ga penting.

Read Full Post »

Kuliah S2 Lebih Bergengsi?

Masak iya sih?

Mungkin ini adalah pertanyaan banyak orang yang ragu-ragu pengen kuliah S2, anti kuliah lagi ato orang-orang yang sudah kadung enak nyari duit. Pertanyaan ini juga yang mampir di kepala ik ketika ortu mengajukan proposal untuk kuliah lagi. WHATS! Mereka pikir kuliah ntu enak, gampang kayak main guli (kelereng). Yang ada tugas lagi, presentasi lagi, tugas lagi, ini lagi, itu lagi, yang paling nyebelin si nyusun tesisnya tu loch.. Opini ortu bahwa titel s2 lebih lakulah, bisa jadi dosen lah (kerja 2-3 x seminggu.. emang enak siy), trus gak banyak orang lah yang dapat kesempatan kayak gini, bla bla bla et cetera et cetera.  fiuuh…

Karena harus nuntut ilmu setinggi langit ik rela harus quit dari kerjaan di Garuda sebagai frontliner (enak, gak harus bangun pagi-pagi banget untuk berias), harus kerja di kontraktor untuk cari pengalaman(kerja yang akhirnya paling ik gak suka), dan harus kembali merapihkan buku-buku, nyiapin folder and loose leafnya. Sebulan, 2 bulan, ik belum nemu enaknya kuliah “elit” ni. Pas nto ik sadar kenapa orang malas kuliah lagi terutama saat mereka ngrasa kerjaan yang mereka tekuni sekarang homy banget and “menghasilkan” yang gak sedikit. Ngapain repot-repot kuliah, kerjaan udah oke, gaji oke, jabatan udah dapet, so what? Belum lagi ada yang nyeletuk: “ngapain kuliah S2?Mo jadi dosen?Emang pasti dah dapat? Dosen Sipil kan masih banyak?Emang ada yang mo pensiun?Kalopun ada nyari 1 dosen dari sekian ribu pelamar, emang pasti dapat?”

Tuh kan… Jadi Down….

Selidik demi selidik, alasan orang untuk kuliah S2 antara lain: untuk menaikkan golongan/jabatan (yang ujung-ujungnya duit/kenaikan gaji), sebagai syarat administrasi (misal: kualifikasi dosen), dan sisanya alasan-alasam gak penting, seperti: iseng,nyenengin ortu, biar nama di KTP lebih panjang dan lebih keren. Apapun latar belakangnya atau apapun alasannya, yang jelas mengikuti kuliah ini sebenarnya perlu persiapan matang, kita dituntut harus mempunyai banyak pengalaman (di luar teori) supaya gak gampang diboongin saat di lapangan nanti, malu dong kuliah tinggi taunya cuma teori aja ga ngerti prakteknya. Persiapan kedua tentunya persiapan keuangan yang gak sedikit (yah untung kalo dapat beasiswa), dan yang terakhir komitmen untuk kuliah sebaik-baiknya and ngerjain tugas yang  seabrek (bagi kaum wanita ik saranin untuk menunda kuliah S2 jika sedang hamil atau baru melahirkan) karena pasti banyak waktu yang tersita untuk keluarga sehingga kuliah dan tugas-tugas jadi terabaikan. Banyak pengalaman temen-temen yang harus bolos berhari-hari sampe akhirnya dia gak diizinin ikut ujian karena kehadirannya bisa dihitung dengan jari, institusi gak mo ambil pusing alasannya, karena mereka berpikir kalo emang lama gak bisa kuliah enakan ambil cuti daripada absen bolong-bolong. Belum lagi tugas-tugas yang dikerjain berkelompok harus dikerjain sendiri karena temen-temen kelompoknya pada  ngempu (kasian donk yang ngerjain tugas, udah ngerjain sendiri, nilai harus dibagi sekelompok…)

Dengan pengalaman itulah, akhirnya ik bisa ambil hikmahnya. Udah sukur dikasik kesempatan kuliah tanpa harus berkeluarga dulu sehingga bisa total di kuliah, hasilnya pun maksimal. Walaupun dengan setengah tenaga pulang dari wara-wiri siang hari, capeknya terbayar karena dipikir gak semua orang dapat kesempatan kuliah mahal ini, kalo gak sekarang kapan lagi?

Jadi, masalah kuliah S2 itu bergengsi atau gak, kembali ke individu masing-masing yang jalanin, tergantung ilmunya dipake apa. Jadi sebaiknya tidak mencemarkan nama pendidikan, dengan petantang-petenteng titel sepanjang kereta api tapi prakteknya nol..lebih parah lagi kalo titel tu hasil beli lewat jalan pintas.

Read Full Post »